11 Agustus 2026 - 22:49
Lembaga Islam AS: Retorika Berbahaya Trump Memicu Islamofobia di Amerika

Dewan Hubungan Amerika-Islam atau CAIR mengecam pernyataan terbaru Donald Trump. Lembaga itu menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat telah membahayakan nyawa para pejabat Muslim Amerika. Menurut CAIR, retorika Trump menjadi salah satu faktor utama meningkatnya keluhan terkait Islamofobia, yang tahun lalu mencapai rekor lebih dari 8.000 laporan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Dewan Hubungan Amerika-Islam atau CAIR, yang dikenal sebagai organisasi hak-hak sipil Muslim terbesar di Amerika Serikat, hari ini mengeluarkan pernyataan keras mengecam retorika penuh kebencian dan Islamofobik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

CAIR memperingatkan bahwa bahasa agresif yang digunakan Trump pada praktiknya telah “menempatkan target di punggung para pejabat Muslim terpilih di seluruh negeri”.

Sehari sebelumnya, dalam pidato di Oval Office Gedung Putih, Trump kembali mengulang sikap permusuhannya dengan mengklaim, “Kita melihat para jihadis terpilih di mana-mana. Entah itu komunisme atau jihadisme, mereka sedang terpilih.”

Pernyataan Trump itu dipandang menunjukkan dalamnya pengaruh pemikiran radikal dan anti-Islam di level tertinggi pemerintahan Amerika.

Edward Ahmed Mitchell, Wakil Direktur Nasional CAIR, dalam pernyataannya menegaskan, “Presiden Trump, dengan menggambarkan para pejabat Muslim sebagai ancaman bagi bangsa kita, telah mempertaruhkan keselamatan para pejabat Muslim terpilih di seluruh negeri. Semua warga Amerika, apa pun ras atau agamanya, berhak berpartisipasi dalam pelayanan publik.”

Lembaga hak-hak sipil tersebut menekankan bahwa ucapan berbahaya dari seorang presiden seperti ini menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya laporan terkait prasangka anti-Islam. Pada 2025, tercatat rekor 8.683 keluhan terkait kasus tersebut.

Menurut CAIR, kebencian terhadap Muslim semakin tidak terkendali karena ada politisi berkuasa yang tidak mampu menerima kehadiran Muslim dalam proses politik.

Mitchell menambahkan, “Ucapan Trump dimaksudkan untuk merendahkan partisipasi Muslim dalam kehidupan politik. Namun tindakan semacam ini justru akan semakin memperkuat tekad Muslim untuk berdiri melawan ketidakadilan dan terus berperan dalam kehidupan sosial, baik di dalam maupun di luar Amerika.”

CAIR juga menyinggung penyebaran gambar-gambar Islamofobik di laman resmi Presiden Amerika Serikat. Lembaga itu menegaskan bahwa tidak ada ras atau agama tertentu yang memiliki hak eksklusif atas negara ini.

Pernyataan tersebut merupakan respons langsung terhadap kebijakan Trump yang dinilai bernuansa fasis dan berusaha menciptakan polarisasi palsu untuk mengisolasi komunitas Muslim.

Dalam bagian lain pernyataannya, CAIR memuji sikap Bill Cassidy, senator Republik dari Louisiana, yang mengecam pernyataan rasis dari rekan-rekan separtainya.

Cassidy menegaskan bahwa Muslim harus dinilai sebagai individu, bukan berdasarkan stereotip diskriminatif.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha